Wisata Sumatera Selatan Tidak Berhenti di Jembatan Ampera
Bagi banyak orang, Sumatera Selatan identik dengan Palembang, pempek, Sungai Musi, dan Jembatan Ampera. Semua itu memang bagian penting dari identitas provinsi ini, tetapi perjalanan ke Sumatera Selatan akan terasa jauh lebih lengkap ketika bergerak keluar dari ibu kota.
Di bagian barat, lanskap berubah menjadi dataran tinggi Bukit Barisan. Pagar Alam menawarkan Gunung Dempo, perkebunan, air terjun, udara sejuk, dan peninggalan megalitik. Kabupaten Lahat menyimpan banyak situs prasejarah Pasemah. Lebih jauh ke selatan terdapat Danau Ranau dengan panorama Gunung Seminung. Di timur, kawasan Banyuasin memperlihatkan rawa, mangrove, sungai, dan bentang pesisir yang berbeda sama sekali dari Palembang.
Karena itu, wisata Sumatera Selatan sebaiknya tidak dibuat sebagai daftar tempat yang harus diselesaikan sekaligus.
Palembang cocok untuk perjalanan sejarah, budaya, sungai, dan kuliner. Pagar Alam serta Lahat lebih cocok untuk wisata alam dan dataran tinggi. Danau Ranau membutuhkan perjalanan tersendiri. Jarak yang cukup jauh antarwilayah membuat itinerary yang terlalu padat justru berpotensi menghabiskan waktu di kendaraan.
Cara yang lebih nyaman adalah memilih satu jalur perjalanan, kemudian memberi waktu untuk melihat kehidupan daerah di sepanjang jalan.
Palembang: Memulai Perjalanan dari Sungai Musi
Sebagian besar perjalanan ke Sumatera Selatan dimulai dari Palembang.
Kota ini berkembang bersama Sungai Musi. Sungai tersebut membelah kota dan sejak lama menjadi jalur transportasi serta bagian penting kehidupan masyarakat. Jembatan Ampera kemudian menghubungkan kawasan Seberang Ulu dan Seberang Ilir di atas Sungai Musi.
Untuk memahami Palembang, jangan hanya melihat kotanya dari jalan raya.
Cobalah melihat Palembang dari tepian sungai.
Jembatan Ampera: Ikon yang Masih Menjadi Bagian Kehidupan Kota
Jembatan Ampera merupakan ikon paling mudah dikenali di Palembang. Jembatan sepanjang sekitar 1,17 kilometer tersebut dibangun pada awal dekade 1960-an dan menghubungkan dua sisi Kota Palembang yang dipisahkan Sungai Musi.
Pagi hari memberi suasana yang lebih tenang, sedangkan menjelang sore dan malam kawasan sekitar jembatan mulai terasa lebih hidup.
Tidak perlu hanya berdiri di satu titik untuk mengambil foto.
Berjalanlah ke kawasan sekitar Benteng Kuto Besak, Pasar 16 Ilir, tepian Musi, atau melihat perahu yang berlalu-lalang. Pemerintah Sumatera Selatan juga menyarankan area bawah jembatan dan Benteng Kuto Besak sebagai titik yang praktis untuk menikmati Jembatan Ampera dari dekat.
Ampera akan terasa lebih menarik ketika dipandang sebagai bagian dari kota, bukan hanya objek wisata tunggal.
Sungai Musi: Melihat Palembang dari Air
Salah satu pengalaman yang paling khas di Palembang adalah menyusuri Sungai Musi.
Pemerintah Sumatera Selatan mencatat wisatawan dapat menggunakan perahu lokal atau ketek untuk melihat kehidupan tepian sungai dan mengunjungi berbagai tempat seperti Pulau Kemaro serta kampung-kampung di sepanjang Musi.
Dari sungai, wajah Palembang terlihat berbeda.
Ada rumah di tepian air, bangunan modern, kapal, dermaga, kawasan industri, tempat ibadah, dan permukiman yang tumbuh bersama sungai.
Tidak semuanya merupakan objek wisata.
Justru melihat aktivitas sehari-hari itulah yang membuat perjalanan terasa lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Jika menyewa perahu, sepakati harga dan rute sebelum berangkat. Gunakan pelampung ketika tersedia dan jangan berdiri sembarangan ketika perahu sedang bergerak.
Benteng Kuto Besak: Jejak Kesultanan Palembang
Benteng Kuto Besak berdiri di tepian Sungai Musi dan merupakan peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam yang berkembang pada akhir abad ke-18. Kawasannya sekarang menjadi salah satu pusat wisata sejarah Palembang dan berada dekat Jembatan Ampera serta Masjid Agung.
Kawasan ini enak dikunjungi menjelang sore.
Selain melihat benteng, pengunjung dapat menikmati Sungai Musi, berjalan menuju Ampera, atau mencoba makanan dari pedagang di sekitar kawasan.
Jangan hanya mencari sudut foto.
Palembang memiliki sejarah panjang sebelum menjadi kota modern sekarang. Memahami sedikit mengenai Kesultanan Palembang dan Sriwijaya akan membuat bangunan-bangunan tersebut terasa lebih saling berhubungan.
Museum Sultan Mahmud Badaruddin II
Tidak jauh dari kawasan Ampera terdapat Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.
Museum ini berada di pusat kawasan bersejarah Palembang dan tercatat sebagai atraksi wisata resmi Kota Palembang.
Bagi wisatawan yang baru pertama datang, museum dapat menjadi tempat yang baik untuk memperoleh konteks sebelum menjelajahi kota lebih jauh.
Kunjungan ke museum terasa lebih berarti bila tidak dilakukan terburu-buru. Beri waktu untuk membaca informasi mengenai perjalanan sejarah masyarakat Palembang, Sriwijaya, Kesultanan Palembang, dan perubahan kota.
Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya
Palembang memiliki hubungan historis yang kuat dengan Sriwijaya. Salah satu tempat untuk membaca jejak tersebut adalah Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya di kawasan Gandus, yang tercatat dalam sistem resmi pariwisata nasional.
Tempat seperti ini mungkin tidak menawarkan keramaian seperti Ampera, tetapi justru cocok bagi pengunjung yang tertarik memahami lapisan sejarah Palembang.
Jangan berharap semua sejarah tersedia sebagai bangunan monumental yang masih utuh.
Nilai kawasan arkeologi sering justru terdapat pada artefak, lanskap, kanal, prasasti, serta hasil penelitian yang membantu membaca kehidupan masa lalu.
Pulau Kemaro: Perjalanan Singkat di Tengah Sungai Musi
Pulau Kemaro berada di Sungai Musi, sekitar enam kilometer dari Jembatan Ampera. Pulau ini dikenal melalui pagoda, kelenteng, cerita lokal, serta perayaan Cap Go Meh yang setiap tahun menarik kunjungan masyarakat.
Perjalanan menuju pulau biasanya dilakukan menggunakan perahu.
Justru perjalanan air menuju Kemaro menjadi bagian menarik dari pengalaman.
Pengunjung dapat melihat perubahan tepian Sungai Musi dari pusat kota menuju kawasan yang lebih jauh.
Sesampainya di pulau, hormati tempat-tempat ibadah dan kegiatan masyarakat.
Pulau Kemaro bukan taman hiburan semata. Bagi sebagian masyarakat, tempat ini memiliki nilai budaya dan keagamaan.
Jika kebetulan datang pada periode perayaan besar, bersiaplah menghadapi jumlah pengunjung yang lebih banyak daripada hari biasa.
Palembang dari Meja Makan: Pempek Bukan Satu-satunya Cerita
Sulit membicarakan Palembang tanpa makanan.
Pempek tentu menjadi kuliner paling terkenal. Namun perjalanan rasa di Sumatera Selatan tidak berhenti di sana. Tekwan, pindang patin, kemplang, dan berbagai hidangan berbahan ikan juga menjadi bagian dari identitas kuliner daerah. Situs resmi pariwisata Indonesia juga menempatkan pempek, tekwan, pindang patin, serta songket sebagai pengalaman khas Sumatera Selatan.
Saat berada di Palembang, jangan hanya mencari merek pempek yang paling terkenal.
Cobalah bertanya kepada warga:
“Kalau makan pempek biasanya ke mana?”
Jawaban mereka bisa membawa pengunjung ke tempat yang tidak selalu muncul di daftar wisata.
Perhatikan juga cara orang lokal menikmatinya.
Ada pempek kecil untuk sarapan atau camilan, pempek kapal selam, lenjer, kulit, adaan, dan berbagai variasi lain.
Cuko pun memiliki karakter berbeda antartempat.
Perjalanan kuliner seperti ini sering lebih menarik dibandingkan sekadar mencoba satu restoran lalu merasa sudah mengenal makanan Palembang.
Pagar Alam: Ketika Sumatera Selatan Berubah Menjadi Pegunungan
Perjalanan dari Palembang menuju Pagar Alam membawa perubahan lanskap yang cukup drastis.
Dataran rendah perlahan digantikan perbukitan Bukit Barisan, udara menjadi lebih sejuk, dan Gunung Dempo mulai mendominasi pemandangan.
Pagar Alam memang menjadi salah satu pusat wisata alam Sumatera Selatan. Kawasan Gunung Dempo, perkebunan, air terjun, dan desa-desa di sekitarnya memberi pengalaman yang sangat berbeda dari Palembang.
Jarak darat dari Palembang menuju kawasan Gunung Dempo dapat memerlukan perjalanan sekitar tujuh jam, sehingga Pagar Alam sebaiknya tidak dimasukkan sebagai perjalanan pulang-pergi dalam satu hari.
Menginap adalah pilihan yang jauh lebih masuk akal.
Gunung Dempo
Gunung Dempo merupakan gunung berapi aktif sekaligus titik tertinggi di Sumatera Selatan. Sumber resmi pariwisata mencatat ketinggiannya sekitar 3.159 meter dan menampilkan kawasan ini sebagai tujuan pendakian sekaligus wisata lanskap.
Namun Gunung Dempo tidak hanya menarik bagi pendaki.
Di kaki gunung terdapat perkebunan, jalan berkelok, pemandangan lembah, dan kawasan dataran tinggi yang sudah cukup untuk membuat perjalanan terasa berbeda.
Bila ingin mendaki, jangan menganggapnya sebagai aktivitas spontan.
Periksa:
- status aktivitas gunung;
- cuaca;
- kondisi jalur;
- registrasi;
- peralatan;
- kondisi tubuh;
- informasi dari pengelola atau petugas.
Jangan bergantung pada laporan pendakian lama karena kondisi gunung dan jalur dapat berubah.
Kebun Teh dan Kehidupan di Kaki Dempo
Jalur menuju Gunung Dempo melewati hamparan perkebunan teh yang menjadi salah satu visual paling khas Pagar Alam. Jalur Kampung IV menuju kawasan gunung juga melewati hamparan perkebunan sebelum mencapai titik awal pendakian.
Namun perlu diingat bahwa perkebunan adalah kawasan kerja.
Jangan masuk ke area produksi, memetik daun, atau mengganggu pekerja hanya untuk mendapatkan foto.
Gunakan titik kunjungan yang memang diperbolehkan.
Berhenti di warung lokal, mencoba kopi atau hasil daerah, dan berbicara dengan warga sering menjadi cara yang lebih baik menikmati kawasan.
Air Terjun di Pagar Alam
Pagar Alam juga memiliki sejumlah air terjun atau cughup, salah satunya Air Terjun Lematang Indah yang tercatat sebagai atraksi wisata resmi dan telah diverifikasi dinas pariwisata.
Wisata air terjun sangat bergantung pada cuaca.
Setelah hujan, jalur dapat licin dan debit air dapat berubah.
Gunakan alas kaki yang sesuai dan jangan berdiri terlalu dekat dengan aliran yang terlihat berbahaya hanya demi foto.
Lahat dan Pasemah: Membaca Sumatera Selatan dari Batu
Di antara Lahat dan Pagar Alam terdapat salah satu lanskap sejarah paling menarik di Sumatera Selatan: Megalitik Pasemah.
Peninggalannya tersebar di antara persawahan, perkebunan, perbukitan, hingga permukiman masyarakat. Balai Pelestarian Kebudayaan mencatat kawasan Pasemah meliputi wilayah Lahat dan Pagar Alam dengan tinggalan seperti menhir, dolmen, peti kubur batu, lesung, dan arca batu.
Ini membuat pengalaman berwisata berbeda dari museum biasa.
Artefak tidak selalu berada dalam gedung.
Sebagian justru berada di tengah lanskap tempat masyarakat masih bertani dan tinggal.
Megalitik Tinggi Hari
Salah satu lokasi yang dapat dikunjungi adalah kawasan Megalitik Tinggi Hari di Kecamatan Gumay Ulu, Kabupaten Lahat.
Portal resmi pariwisata Sumatera Selatan mencatat situs tersebut sebagai bagian dari kawasan Megalitik Pasemah dengan ribuan tinggalan yang tersebar di puluhan situs.
Datanglah dengan pemandu lokal jika memungkinkan.
Bukan hanya untuk menemukan situs, tetapi untuk memahami apa yang dilihat.
Batu yang sekilas tampak sederhana dapat mempunyai fungsi, bentuk, dan konteks sejarah yang tidak akan terlihat tanpa penjelasan.
Dan yang paling penting: jangan menyentuh, memanjat, menggeser, atau mengambil apa pun.
Danau Ranau: Sumatera Selatan dengan Ritme yang Lebih Lambat
Danau Ranau berada di wilayah perbatasan Sumatera Selatan dan Lampung. Di sisi Sumatera Selatan, kawasan ini berkaitan erat dengan Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan.
Danau vulkanik ini dikenal sebagai danau terbesar kedua di Sumatra dan menawarkan panorama Gunung Seminung serta Pulau Marisa.
Danau Ranau cocok untuk jenis perjalanan yang berbeda dari Palembang.
Tidak banyak yang perlu “diselesaikan”.
Duduk di tepian danau, naik perahu, memancing, menikmati udara, atau melihat perubahan cahaya pada Gunung Seminung justru menjadi pengalaman utamanya.
Kalau memungkinkan, menginap satu malam.
Pagi di tepi danau terasa berbeda dari kunjungan singkat pada tengah hari.
Suasana lebih sejuk dan kegiatan masyarakat sekitar mulai terlihat.
Danau Ranau merupakan contoh destinasi yang akan kehilangan sebagian pesonanya jika wisatawan hanya datang satu jam untuk mengambil foto.
Banyuasin dan Taman Nasional Sembilang: Melihat Sumatera Selatan dari Pesisir
Sumatera Selatan juga memiliki bentang rawa, mangrove, dan pesisir yang penting.
Taman Nasional Sembilang berada di kawasan pesisir timur dan dikenal dengan ekosistem rawa, hutan gambut, mangrove, serta kekayaan burung. Kawasan ini juga menjadi habitat berbagai satwa liar.
Wisata seperti ini berbeda dari taman rekreasi.
Pengunjung perlu menyesuaikan perjalanan dengan kondisi alam, transportasi air, izin, dan aturan konservasi.
Tidak semua satwa akan muncul.
Jangan menjadikan keberhasilan melihat satwa tertentu sebagai satu-satunya ukuran perjalanan.
Mendengar suara burung, menyusuri mangrove, melihat perubahan pasang, dan memahami ekosistem pesisir sudah menjadi pengalaman yang berharga.
Muara Enim dan Tanjung Enim: Lanskap yang Terus Berubah
Kabupaten Muara Enim dan kawasan Tanjung Enim memperlihatkan sisi lain Sumatera Selatan.
Daerah ini lama dikenal sebagai kawasan pertambangan, tetapi sejumlah lanskap bekas tambang dan perbukitan kemudian berkembang sebagai tujuan wisata lokal. Indonesia Travel misalnya memasukkan Danau Cinta Tanjung Enim sebagai salah satu pengalaman wisata Sumatera Selatan.
Perjalanan ke kawasan seperti ini menarik karena memperlihatkan hubungan antara industri dan perubahan lanskap.
Namun tetap periksa status akses tempat sebelum berangkat.
Kawasan yang berasal dari area pertambangan bisa memiliki pembatasan atau perubahan kondisi.
Jangan memasuki area yang tidak secara resmi dibuka untuk wisata.
Ogan Komering Ulu: Gua dan Cerita Rakyat
Wilayah Baturaja di Kabupaten Ogan Komering Ulu juga dikenal melalui wisata gua.
Salah satunya adalah Gua Putri, kawasan yang memiliki stalaktit, stalagmit, aliran bawah tanah, serta cerita rakyat yang hidup di tengah masyarakat. Indonesia Travel memasukkan Gua Batu Putri sebagai salah satu daya tarik alam dan budaya Sumatera Selatan.
Jika masuk ke gua, ikuti jalur pengunjung.
Jangan menyentuh atau merusak formasi batu.
Stalaktit dan stalagmit terbentuk dalam waktu sangat panjang. Kerusakan kecil yang terlihat sepele dapat bersifat permanen.
Bila tersedia pemandu, gunakan.
Cerita lokal mengenai kawasan tersebut justru dapat membuat perjalanan lebih menarik dibandingkan sekadar berjalan masuk dan keluar gua.
Mengenal Sumatera Selatan lewat Songket dan Rumah Limas
Sumatera Selatan tidak hanya dibaca dari tempat wisata.
Songket Palembang dan Rumah Limas adalah dua unsur budaya yang membantu memahami masyarakat daerah ini.
Pemerintah Kota Palembang mencatat Rumah Limas sebagai rumah tradisional berbentuk panggung bertingkat, sementara Museum Balaputra Dewa menyimpan salah satu contoh rumah limas serta koleksi sejarah dari periode prasejarah, Sriwijaya, Kesultanan Palembang, hingga masa kolonial.
Songket juga menjadi salah satu produk budaya utama Sumatera Selatan dan banyak menggunakan motif serta benang yang berkaitan dengan tradisi masyarakat Palembang.
Jika membeli songket atau kerajinan, tanyakan:
- apakah dibuat dengan tenun tangan;
- berapa lama prosesnya;
- asal perajin;
- makna motif.
Cara seperti ini membuat oleh-oleh tidak berhenti sebagai barang, tetapi memiliki cerita tentang orang yang membuatnya.
Rute Wisata Sumatera Selatan Berdasarkan Waktu
Tiga Hari
Untuk kunjungan pertama, fokuslah pada Palembang.
Hari pertama
- Jembatan Ampera;
- Benteng Kuto Besak;
- Museum Sultan Mahmud Badaruddin II;
- wisata kuliner;
- menikmati Sungai Musi menjelang sore.
Hari kedua
- wisata Sungai Musi;
- Pulau Kemaro;
- kawasan kampung tepian sungai;
- kembali ke pusat kota.
Hari ketiga
- Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya atau Museum Balaputra Dewa;
- berburu songket;
- kuliner sebelum pulang.
Jangan memasukkan Pagar Alam ke rute tiga hari apabila datang dan pulang melalui Palembang.
Waktu perjalanan terlalu panjang.
Lima Hari
Rute yang lebih realistis:
Palembang → Pagar Alam → kembali ke Palembang
Gunakan sekitar dua hari untuk Palembang dan dua hingga tiga hari untuk kawasan Pagar Alam.
Dengan waktu tersebut, pengunjung dapat menikmati:
- Sungai Musi;
- sejarah Palembang;
- Gunung Dempo;
- kebun teh;
- air terjun;
- kawasan Pasemah.
Tujuh Hari
Pilihan rute:
Palembang → Lahat → Pagar Alam → Palembang
atau:
Palembang → Pagar Alam → Danau Ranau
Jangan mencoba memasukkan Palembang, Pagar Alam, Danau Ranau, Sembilang, dan seluruh kawasan lain sekaligus.
Sumatera Selatan jauh lebih menyenangkan ketika jumlah perpindahan dikurangi.
Tips Berkunjung ke Sumatera Selatan
Jangan Menganggap Semua Tempat Dekat dengan Palembang
Palembang memang menjadi pintu masuk utama, tetapi Gunung Dempo dan Danau Ranau berada jauh ke arah barat dan selatan.
Pagar Alam sendiri memerlukan perjalanan darat sekitar tujuh jam dari Palembang.
Sediakan hari perjalanan secara realistis.
Berangkat Pagi untuk Perjalanan Antarkota
Jalur menuju Lahat, Pagar Alam, dan Danau Ranau memerlukan waktu.
Berangkat pagi memberi cadangan jika perjalanan lebih lambat dari perkiraan.
Bawa Pakaian untuk Dua Jenis Cuaca
Palembang dapat terasa panas dan lembap.
Pagar Alam jauh lebih sejuk karena berada di dataran tinggi.
Jika itinerary mencakup keduanya, siapkan pakaian tipis sekaligus jaket.
Periksa Kondisi Gunung Dempo
Gunung Dempo adalah gunung berapi aktif.
Bagi pendaki, informasi aktivitas vulkanik, cuaca, registrasi, dan kondisi jalur wajib diperiksa sebelum keberangkatan.
Gunakan Transportasi Sungai dengan Aman
Bila naik ketek atau perahu di Sungai Musi, sepakati harga serta tujuan lebih dahulu.
Gunakan alat keselamatan yang tersedia.
Jangan berdiri atau berpindah posisi sembarangan ketika perahu sedang bergerak.
Hormati Situs Megalitik
Banyak tinggalan Pasemah berada di ladang, kebun, atau dekat permukiman warga.
Jangan menganggap seluruh lahan sebagai taman wisata.
Minta izin bila memasuki area milik warga.
Cicipi Makanan di Daerah Asalnya
Jangan berhenti pada pempek.
Cobalah:
- tekwan;
- pindang;
- kemplang;
- berbagai olahan ikan;
- makanan khas daerah yang dilewati.
Pempek mungkin menjadi pintu masuk, tetapi Sumatera Selatan memiliki tradisi kuliner yang jauh lebih luas.
Sumatera Selatan Paling Terasa ketika Perjalanan Bergerak dari Sungai ke Gunung
Sumatera Selatan memiliki perjalanan yang menarik karena lanskap dan sejarahnya berubah cukup drastis dari timur ke barat.
Palembang tumbuh bersama Sungai Musi. Sungai membawa perdagangan, permukiman, kuliner, dan sejarah kota. Ampera kemudian menjadi ikon modern di atas sungai yang telah jauh lebih lama membentuk kehidupan masyarakat.
Ketika bergerak menuju Lahat dan Pagar Alam, cerita berubah.
Sungai besar berganti dengan kebun, lembah, Gunung Dempo, dan batu-batu Pasemah yang menyimpan jejak masyarakat ribuan tahun lalu. Kawasan Pasemah memang menjadi salah satu pusat penting tinggalan megalitik di Indonesia.
Lebih ke selatan, Danau Ranau menghadirkan perjalanan yang lebih tenang.
Dan di pesisir timur, rawa serta mangrove menunjukkan bahwa Sumatera Selatan bahkan memiliki wajah lain yang sama sekali berbeda.
Karena itulah perjalanan provinsi ini tidak perlu dikejar terlalu cepat.
Di Palembang, duduk di pinggir Musi dapat lebih berkesan daripada berpindah lima objek wisata dalam satu sore.
Di Pagar Alam, melihat kabut turun di kebun atau berbicara dengan warga di warung bisa lebih kuat daripada hanya mendapatkan foto Gunung Dempo.
Di Lahat, melihat arca megalitik berdiri di tengah lanskap pertanian membuat sejarah terasa dekat dengan kehidupan sekarang.
Sumatera Selatan akan terasa paling utuh ketika wisatawan memberi ruang untuk perjalanan itu sendiri.